Tidak Bayar Gaji dan Pecat Karyawan, PT Bukit Mayana Dilaporkan

Labura-IntaiNew.com : PT. Bukit Mayana di laporkan ke UPT Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Wilayah, kerena tidak bayar gaji dan pecat karyawan secara sepihak.

Laporan itu telah di sampaikan, oleh M.Tongat warga Kelurahan Padang bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara kepada wartawan, belum lama ini.

Menurut M. Toat, pemecatan secara sepihak di lakukan menejemen PT Bukit Mayana kepada dirinya berawal dari musibah kecelakaan pada jam kerja.

Dimana Mobil Barang (Mobar) milik PT. Bukit Mayana yang dikemudikannya kontra fisik dengan Coldiesel PS 120 muatan Tanah timbun, di jalan lintas antara Ajamu dengan Sei Rakyat Labuhan Batu Sumatera Utara.

Anehnya, PT Bukit Mayana minta tolong kepada orang tua karyawan untuk mengurusnya secara pribadi, dengan alasan agar lebih ringan biayanya dan lebih cepat prosesnya.

“Pada saat ayah saya bertemu dengan pihak perusahaan PT. Bukit Mayana, pihaknya berjanji dikantor di Jalan Baru Rantauprapat, mereka berjanji setelah persoalannya selesai ditangani oleh ayah saya, maka seluruh uang pengeluaran diganti dan dikembalikan oleh pihak perusahaan seluruh biaya,” kata Toat.

Karena sudah ada kesepakatan, ayah saya merental mobil pancing/ derek dengan biaya 3.250.000 ditambah lagi perbaikan truk beserta perdamaian sebesar Rp. 1.550.000,- dengan bukti kwitansi pembayaran, kwitansi aslinya telah diberikan kepada pihak perusahaan PT. Bukit Mayana.

“Setelah selesai ditangani ayah saya masalah kecelakaan, pihak PT. Bukit Mayana ingkar janji, dengan alasan kalau terjadi kecelakaan seluruh biaya dibebankan kepada karyawan,” ungkap Toat.

Lebih paeah lagi, Menejemen PT Bukit Mayana menawarkan bantuan kepada Toat berupa pinjaman saja dengan catatan dicicil tiap bulan dipotong gaji dalam kurun waktu tiga Bulan.

Ucapan menjemen juga tidak bisa dipegang, Lagi lagi Menejemen PT Bukit Mayana tidak memenuhi janji, mulai Maret sampai Juni 2020 pinjaman tersebut tidak kunjung cair oleh pihak perusahaan PT.Bukit Mayana.

Ketika Toat menagih janji, Pihak PT. Bukit Mayana bukannya menanggapi, malah Arif menyuruh saya berhenti bekerja di PT Bukit Mayana,”sejak saya disuruh berhenti, langsung saya berhenti tidak bekerja lagi di Perusahaan tersebut sejak Juni 2020,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, merasa dirugikan mantan karyawan perusahaan Bukit Mayana, M Toad (25) warga Labuhanbatu Sumut, melaporkan PT Bukit Mayana dengan melayangkan surat resmi kepada pihak pengawas Dinas tenaga kerja Sumatera Utara wilayah Kabupaten Labuhanbatu pada tanggal 10 September 2020.

Dalam laporan itu, perihal janji perusahaan Bukit Mayana yang akan menanggung biaya kecelakaan dirinya pada saat jam namun diingkari.

Selain itu, Toad juga melaporkan terkait pemberhentian hubungan kerja (PHK), dan mengenai jam kerja tidak sesuai dengan PKWT yang semestinya 8 jam kerja, namun sampai 17 jam kerja.

“Meskipun kelebihan jam kerja tidak di hitung lembur. Kemudian Rapelan kenaikan gaji tidak di bayarkan, yang seharusnya 3 bulan di kali 250.000 namun yang dikeluarkan perusahaan hanya satu bulan,” ujarnya Toad, Rabu (7/10/2020) kepada IntaiNew.com.

Tak hanya itu, sambung Toad, perusahaan tersebut juga mempersulit saya untuk pengurusan pengambilan BPJS Ketenagakerjaan.

“Pasalnya saya mau mengambil dana di BPJS Ketenagakerjaan, namun surat rekomendasi atau berkas yang diperlukan untuk pengurusan BPJS Ketenagakerjaan tersebut tak kunjung keluar,” imbuh Toad.

Sebelumnya diberitakan, Muhammad Toad (25) warga Rantauprapat, harus menanggung beban biaya kecelakaan yang dialaminya di waktu jam kerja pada sebuah perusahaan distributor yang berkantor di jalan By Pass, Kabupaten Labuhanbatu.

Orang tua Toad, ini sial P menceritakan kepada wartawan, Rabu (15/7) di Rantauprapat, bahwa anaknya dalam pekerjaan sebagai sales di perusahaan tersebut mengalami kecelakaan sekitar 3 bulan yang lalu.

Namun, kata Ayah Toat inisial P pihak perusahaan yang semula janji akan menanggung biaya yang dialami anaknya, hingga sekarang belum memenuhi janjinya.

“Kejadiannya bulan Maret 2020 lalu. Sewaktu anak saya mengantar barang dagangan perusahaan kearah Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Sumut Kemudian naas anak saya mengalami kecelakaan menyerempet mobil bermuatan tanah,” ujarnya.

Akhirnya, lanjut dia, anak saya bisa berdamai dengan mobil yang terserempet tersebut dengan sejumlah uang jutaan rupiah.

“Karena kejadiannya pada saat jam kerja, perusahaan meminta pihak keluarga Toad melakukan perdamaian dengan janji akan diganti kerugiannya oleh perusahaan. Kenyataannya pihak perusahaan berbohong kepada kami maka anak saya melapor tentang mengenai pemberhentian kerja, kelebihan jam kerja dari 8 jam menjadi 17 jam,tapi tidak dihitung lembur, Rapelan tiga Bulan yang dibayar hanya satu Bulan anak saya merasa keberatan,” tandas P.

Alner pihak yang mewakili perusahaan yang turut mengetahui kesepakatan terkait biaya kecelakaan Toad berkilah dan menyarankan konfirmasi ke Arif selaku penanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Gini aja untuk lebih jelasnya silahkan hubungi Arif perusahaan Bukit Mayana. Saya kemarin hanya perwakilan,” pungkasnya.

Ketika pihak perusahaan Arif di konfirmasi wartawan Rabu melalui WhatsApp (07/09/20) terkirim dan dibaca namun sampai berita ini dikirim pihak perusahaan tidak dapat memberikan jawaban. Inc.Mjs.