Pedagang Getuk Ini Nerobos Pagi dari Pakam ke Medan

Medan-Intainew.com :

DENGAN etalase kaca mungil diikat di dudukan belakang sepedamotornya, seorang ayah setengah baya ini menembus pagi dari Lubuk Pakam ke Medan.

Dia adalah pedagang keliling setiap hari menjajakan dagangannya dari satu tempat ke tempat lain yang dianggapnya cocok dan tidak mengganggu orang lain.

Tempat tempat yang dikunjungi untuk mangkal umumnya lokasi ramai dan tidak ada pedagang menjual sejenis dengan apa yang dijualnya.

Ayah tiga anak tersebut sering dipanggil Wak Tuwul. Kenapa demikian, karena dia memang pedagang makanan seperti tiwul, getuk lindri dan getuk kampung, gatot, pulut serta sesekali menyediakan makanan ringan lain.

“Sudah sekitar empat tahun saya berjualan makanan tradisional terbuat dari ubi ini,” sebutnya saat ditemui di tempatnya mangkal, Selasa (01/06/2021)

Mulai sekira pukul 06.30 WIB dia siap bersama daganganya di atas
motor dan mangkal di persimpangan tiga  ruas Jalan Denai Ujung sampa sekira pukul 09.00 WIB. Bila masih sisa dia akan pindah mangkal di pusat pusat perbelanjaan tradisional atau keliling.

Terimbas Covid

Setiap hari dia membawa ratusan potong getuk dan bungkusan tiwul/gatot maupun pulut liwet kalau ditotal bisa 300 potong.

Jumlah itu turun hampir separohnya sejak Covid melanda. Pak Tiwul gak tau pasti mengapa Corona berpengaruh terhadap jualanya yang tidak menimbulkan kerumunan tersebut.

Selama Covid ini pula dia harus putar otak kerja keras agar dagangannya tetap laku. Oleh sebab itu dia menjarah pasar Medan karena di wilayahnya tinggal di Lubuk Pakam dan sekitar Deliseradang sudah banyak pedagang serupa.

Pak Tiwul menganggap Kota Medan masih menjadi magnet untuk berdagang, terutama untuk produk makanan tradisional seperti yang dijualnya.

“Yang penting kita memberikan pelayanan terbaik dan mutu produk dijaga. Kita memang murah, tetapi bukan murahan,” tegasnya.

Pak Tiwul menjual dagangannya serba terjangkau. Seperti tiwul dijual Rp2.000/bungkus, demikian juga gatot dan grontol jagung maupun pulut. Sementara getuk lindri warna warni Rp2.000/3 potong, sedangkan getuk kampung (biasa) taburan kellapa parut dijual Rp1.000/potong. Karyadi Bakat