Kelapa Batubara yang Dijual di Pasaran Medan Umumnya Palsu

Medan-Intainew.com :

PARA ibu rumahtangga yang hobi memasak umumnya tahu tentang kelapa Batubara, dikenal memiliki mutu yang sangat baik sebagai bahan untuk masakan berbahan santan.

Tetapi tahukah kita, ternyata saat ini tidak mudah untuk mendapatkan buah kelapa asli asal Kabupaten Batubara Sumatera Utara tersebur, misalnya di pasaran Kota Medan.

Walau banyak pedagang kelapa yang menggelar dagangannya menuliskan nama Kelapa Batubara di kiosnya. Belum tentu itu benar.

Dari sekian banyak pedagang yang berjualan kelapa umumnya jika  ditanya  menjawab kelapa Batubara, hal itu dilakukan agar yang dijualnya tersebut  laku.

Tetapi bagi yang jujur tidak akan menjawab pertanyaan itu secara transparan. Paling banter mereka menjawab dari Langkat atau Pakam (Deliserdang maksudnya).

Seorang pedagang kelapa yang berjualan di pusat perbelanjaan tradisiomal Pasar 3 Tembung  dalam bincang bincang  suatu pagi belum lama ini mengatakan, sekarang tidak mudah untuk mendapatkan buah kelapa dari Batubara.

‘Umumnya kelapa yang masuk ke Medan berasal dari Propinsi Aceh, sebagian kecil ada dari Langkat, Deliserdang atau daerah sekitar Medan lainnya,’ kata pedagang yang sering dipanggil Ucok tersebut.

Jauh Berkurang

Seorang pedagang kelapa misalnya menawarkan daganganya dalam kondisi normal antara Rp3.000 dan yang paling besar rata-rata Rp5.000/buah, dipastikan itu bukan kelapa Batubara alias KW.

Karena menurut toke kelapa yang sudah menggelutinya lebih lima tahun tersebut, harga kelapa di Batubara dari pengumpul sudah mencapai Rp8.000/gandeng bahkan yang besar lebih mahal lagi.

“Tidak mungkin pedagang jual rugi di Medan, ongkos dari Kabupaten Batubara saja sudah berapa,” katanya.

Diakui mutu santan kelapa Batubara bagus, lemaknya sangat terasa untuk memasak dan lebih kental, menurut para ibu rumahtangga yang hobi masak mungkin pesisir wilayah itu memang cocok.
Namun demikian bukan berarti kelapa dari daerah lain tidak bagus, yang penting bergantung pengaturan penggunaannya saja, tambah Ucok.

Sementara itu menurut H Ssmsuri, seorang warga asli asal Kabupeten Batubara yang membuka usaha dan tinggal di Medan mengatakan, sejak 25 tahun terakhir jumlah pohon kelapa di kampunya jauh berkurang.

“Sudah banyak ditobang  untuk dibuat beroti,” sebutnya dengan logat daerah yang kental.

Kalau pun panen kelapa biasanya hanya dijual di daerah sendiri untuk kebutuhan masyarakat setempat, sebab umumnya masakan Melayu Batubara sangat identik dengan santan, sebut Pak Haji itu. * Karyadi Bakat