Di Desa Tua Bulu Cina Jual Gorengan Seperti di Thailand

Oleh : Karyadi Bakat

JIKA ANDA pernah jalan jalan ke Thailand terutama ke pusat jajanan, banyak pedagang yang berjualan hanya memanfaatkan meja secara terbuka menggelar dagangannya.

Misalnya pedagang makanan sejenis kue basah atau gorengan. Di tempatnya berjualan itu juga dilakukan pengolahan produk yang dijualnya seperti menggoreng atau meramu makanan yang akan dibuat dan dijual.

Bedanya di sana tempatnya memang areal pasar wisata. Banyak turis yang datang, pembeli bisa melihat langsung sang pedagang mengolahnya, sementara konsumen bisa sambil makan makananan yang dijual tersebut.

Nah, jika anda kepingin  melihat suasana seperti itu, sambil menikmati gorengan melihat pengolahanya secara langsung di tempat yang sama, bisa berkunjung ke sebuah desa tua di Deliserdang, Sumatera Utara.

Berada di Kecamatan Hamparanperak, namanya Desa Bulu Cina. Jika dari Kota Medan paling lama bisa tempuh sekira setengah jam. Suasana desa yang nyaman dan sejuk karena di kawasan itu masih banyak terdapat pepohonan besar berumur ratusan tahun peninggalan Belanda.

Menuju ke kawasan itu sepanjang jalan anda akan disuguhi pemandangan perkebunan tebu maupun hutan jati. Pada periode tertentu areal itu juga ditanami tembakau.

Swalayan

Di lokadi itu pedagang menggelar dagangannya secara terbuka, pembeli bebas memilih makanan apa yang diinginkan dan ambil sendiri, dibawa pulang atau dimakan di tempat sambil melihat cara mengolah dan memasaknya.

Atau pembeli bisa menikmatinya di situ, karena disediakan tempat untuk bersantai, anda bisa memesan minuman seperti kopi, teh manis dan minuman botol atau sekedar air putih.

“Ini adalah cara kami memberi pelayanan secara mandiri/swalayan sehingga pembeli puas,” kata Ibu Nur yang sudah lebih lima tahun berjualan gorengan dengan cara unik itu.

Kalau di tempat lain seperti Medan, gorengan diletakkan di dalam steling, tapi di sini ada yang beda, tambahnya.

Terdapat beberapa lokasi jualan gorengan/makanan  model seperti itu di desa tersebut. Ada yang berada di depan rumah warga dengan memanfaatkan halaman, ada juga di bawah pohon besar dan rindang di petsimpangan jalan. Jelasnya anda akan merasa nyaman dan betah berlama lama.

Gorengan yang digelar di atas meja penggorengannya itu terus  hangat. Ada tahu isi, risol, ubi, pisang, gemblong, tempe dan lainnya dengan harga Rp2000/tiga potong.

Selain bisa menikmati makan ala kampung yang enak gurih dan lezat, juga suasana desa yang nyantai serasa berada di tempo doeloe. Pasalnya anda bisa berjalan jalan menikmati pemandangan yanga banyak bangunan lama jaman Belanda dan saat ini dikelola perusahaan perkebunan PTPN 2 sebagai lokasi perkantoran, perumahan karyawan dan pergudangan.

Anda bisa mencobanya dan dijamin akan ada asa berbeda sehingga akan menimbulkan rasa bahagia.  ***